Dua hal penting paling fatal yang gak dilakukan tim medis di Indonesia saat menangani Choirul Huda - Khazahk.com
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Dua hal penting paling fatal yang gak dilakukan tim medis di Indonesia saat menangani Choirul Huda

Kecelakaan yang menyebabkan tewasnya Choirul huda di lapangan membuat kualitas penanganan medis di sepak bola Indonesia menjadi pusat perhatian. Huda meninggal karena berbenturan dengan rekan setimnya, Ramon Rodrigues, saat mengaman gawangnya dari ancaman Marcel Sacramento, pada menit ke-44.


Persitiwa berawal saat Huda berusaha menyongsong bola yang tengah diperebutkan Ramon dan Marcel, saat itulah kaki Ramon membentur dada Huda dengan fatal. Sesaat setelah berbenturan, Huda tampak kesakitan memegang dada sambil melipat tubuhnya.

Segera saja Huda tidak sadar dan dilarikan ke rumah sakit.

Namun banyak netizen yang menyesalkan penanganan tim medis yang dianggap kurang tanggap dan tidak memiliki SOP. Tak hanya itu saja penjaga gawang Gresik United, Aji Saka, serta Fisioterapis PS TNI, Matias Ibo juga menyoroti performa tim medis dalam laga tersebut.

Dirangkum BolaSport.com dari berbagai sumber berikut 2 hal penting yang tak dilakukan tim medis kala menolong Choirul Huda:

1. Tidak Membuka Jalan Nafas

Pemain Atletico madrid berusaha membuka mulut Fernando Torres Aji Saka, yang pernah mengalami kecelakaan fatal serupa di lapangan menyoroti tindakan tim medis yang tak membuka jalan nafas Choirul Huda. Dalam laga Gresik United kontra Arema FC pada Juli 2017, kepala Aji Saka sempat membentur tiang hingga menyebabkan kiper berusia 26 tahun ini kejang-kejang.

Untungnya, Aji segera mendapatkan pertolongan dari Cristian Gonzales yang membuka mulut Aji sambil menunggu bantuan medis masuk ke lapangan.

"Padahal hal pertama yang harusnya dilakukan itu mulutnya dibuka terus, biar jalan nafasnya terbuka. Karena resikonya besar, hitungan detik oksigen tidak masuk ke otak bisa fatal," ujar Aji Saka

Hal senada juga diungkapkan oleh Fisioterapis PS TNI, Matias Ibo.
"Kalau melihat gejala-gejala tabrakan seperti tadi, yang pertama dilakukan adalah memastikan lidahnya tertelan atau tidak. Ini bisa diketahui dari cara dia minta udara atau cara dia bergerak. Itu pertama yang harus dilakukan." ucap Matias

Pada Maret 2017 lalu, Pemain Atletico madrid, Fernando Torres juga mengalami benturan kepala yang menyebabkan pemain berusia 33 tahun itu kejang di lapangan. Sama seperti Aji, Torres beruntung karena segera setelah kepalanya menyentuh tanah, rekan satu timnya segera membuka jalan nafas Torres sambil menunggu tim medis masuk ke lapangan.


2. Tidak Memakaikan Pengaman Leher (Cervical Collar Neck)


Menurut standar FIFA, pemain yang dicurigai mengalami cedera leher, atau tulang belakang, dan pemain yang tak sadar di lapangan sama sekali tidak boleh digerakkan atau dipindah. Hal ini dikarenakan, pemain tersebut berpotensi mengalami cedera spinal atau tulang belakang. Pemindahan yang salah pada pasien yang mengalami cedera spinal bisa menyebabkan kelumpuhan bahkan kematian.

Pasien tersebut harus distabilkan posisi leher, kepala, dan tulang belakangnya terlebih dahulu sebelum dipindahkan dengan sangat hati-hati. Pada kasus cedera fatal Fernando Torres, tim medis tak lupa memakaikan pengaman leher atau collar neck pada Torres sebelum menandu pesepak bola asal Spanyol itu ke luar lapangan.

Hal ini tidak dilakukan pada Choirul Huda.

Padahal Kepala unit Instalasi Gawat Darurat RSUD dr. Soegiri Lamongan, tempat Choirul Huda dirujuk, mengatakan bahwa ada kemungkinan Huda mengalami trauma leher.

Dokter Yudistiro Andri Nugroho, Spesialis Anastesi mengatakan, "Sesuai analisis awal benturan ada di dada dan rahang bawah. Ada kemungkinan trauma dada, trauma kepala, dan trauma leher. Di dalam tulang leher itu ada sumsum tulang yang menghubungkan batang otak. Di batang otak itu, ada pusat-pusat semua organ vital, pusat denyut jantung, dan napas." ( sumber : Bolasport.com )