Unggah nasi goreng mahal di malioboro, Dwiki dapat ancaman - Khazahk.com
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Unggah nasi goreng mahal di malioboro, Dwiki dapat ancaman

Ucnews.id | Sebagaimana dilansir laman Kompas.com pada 9 November 2017, Di mana sebuah unggahan di media social tiba-tiba menjadi viral hanya karena si penggugah mengeluhkan tentang betapa mahalnya harga sepiring nasi goreng di pedagang kaki lima di sekitaran pasar Malioboro, Yogyakarta.


Muhammad Dwiki Bagaskara mengunggah tulisannya di sebuah akun media social Facebook yang bernama Info Cegatan Jogya. Dalam tulisannya itu Dwiki mengeluhkan mahalnya harga makanan pedagang kaki lima. Ia menceritakan kisahnya yang sedikit kaget bercampur heran karena harus mengeluarkan uang sebesar Rp 88.000 hanya untuk tiga porsi nasi goreng dan tiga minuman.

Menurut Dwiki, harga tersebut terlampau mahal. Ia kemudian membandingkan dengan harga makanan di daerahnya, yaitu Sumatera.

Berikut isi unggahan Dwiki.

“Malamm sedulurr... mau nanya... kami bukan orang asli jogja.. kami dijogja beberapa hari... kami sedang ada urusan kerja di jogja.. tadi kami barusan makan di tempat makan emperan gerobak.. menunya nasi goreng telur dengan suwiran ayam sedikit 3 porsi.. esteh 1... teh anget tawar 1.. teh anget manis 1... total harga 88 ribu.. jujur kami sebagai bukan orang jogja asli kaget sekali karena saya yg berasal dari sumatera yg dominan harga sembako lebih mahal.. tapi harga dan menu yg kami pilih tidak semahal disini ( lebih murah di daerah saya) ... karena yang kami ketahui.. jogja relatif lebih murah harga makanannya...Harga standar cafe pun tidak ada semahal ini.. dengan porsi yg disajikan dan kualitasnya.. kami tidak menanyakan harga karena kami menyesuaikan dengan kondisi lapak penjual yg bukan bangunan permanen.. ini yang membuat kami bingung dan kurang nyaman.. semalam hujan dan berniat cari makan di sekitar penginapan..lokasi jalan dagen malioboro.. mohon maaf lur mengganggu waktunya #butuhinfo. #janganbibully #hanyabutuhinfo”

Mengutip KompasTravel pada 10 November 2017 yang berhasil menghubungi Dwiki, dikatakan bahwa ternyata unggahannya mendapatkan klarifikasi dari seseorang yang mengaku pedagang nasi goreng. Dan orang tersebut menerangkan bahwa harga nasi goreng per porsi Rp 25.000, sedangkan es teh manis per gelas harganya Rp 5.000.

Tidak berhenti sampai di situ, Dwiki juga mengaku mendapatkan peringatan bahkan ancaman. Teman-teman Dwiki juga ikut mendapat terror. Meski sampai saat diklarifikasi Dwiki mengatakan masih diam saja, tapi dia mengaku telah banyak bertanya ke beberapa temannya yang mengerti hukum.

Sebagai mahasiswa perantau di Kota Gudeg itu, Dwiki sangat berharap kejadian seperti itu tidak terulang lagi. Harapannya agar Yogya selalu jadi kota yang berhati nyaman dan tidak berhenti nyaman kepada siapa pun juga.

Hal serupa pernah dialami Arie Ridwan (29), seorang wisatawan asal Bekasi. Ia kaget bukan kepalang ketika diberitahu berapa harga yang harus dibayarnya saat makan di sebuah warung lesehan di sekitar Alun-alun Selatan.

Arie dan istrinya berkunjung ke Yogyakarta pada pertengahan Agustus 2017. Di malam terakhirnya di Yogya, ia memutuskan untuk mengunjungi Alun-alun Selatan Yogyakarta. Sebelum kembali ke hotel, ia dan istri diantar tukang becak ke sebuah tempat makan gudeg di dekat alun-alun. Tempatnya lesehan sederhana, seperti prasmanan. Arie dan istri hanya makan dua porsi gudeg, satu jus jeruk, dan satu es teh manis. Dan begitu kagetnya ia karena harus membayar Rp 250.000.

Sebagaimana disampaikannya kepada Kompas Travel (9/11/2017), meski kaget tapi ia tak mau ambil pusing dan langsung membayar. Hanya saja menurutnya, harga sebesar itu terlalu mahal jika untuk makanan lesehan sederhana seperti itu. Beda halnya mungkin jika itu adalah restoran.

Berita-berita yang tersebar tentu membawa dampak negative bagi para pedagang kali lima dan lesehan di Yogyakarta. Dan imbasnya tentu saja kepada pariwisata Yogya itu sendiri. Membuat Sudiyanto selaku Ketua Dewan Pimpinan Daerah Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sudiyanto angkat bicara.

Kepada Kompas Travel ia mengatakan bahwa ia sangat menyayangkan hal seperti itu bisa terjadi. Pembinaan pedagang juga tidak boleh berhenti, harus dilakukan berkali-kali. Dan kesadaran dari masing-masing penjual juga sangat diharapkan agar tetap mentaati peraturan yang telah disepakati. Selain itu, pedagang juga harus mau menerima sanksi jika terbukti melanggar.

Sudiyanto berharap ada standar yang kemudian ditentukan, bahwa harga makanan boleh saja mahal asal seimbang dengan kualitasnya. Sehingga adil bagi semua pihak, baik itu konsumen maupun para pedagang.